Archive for the ‘Kisah Inspirasi’ Category

Suatu hari seorang sahabat saya pergi ke rumah orang jompo atau lebih terkenal dengan sebutan panti werdha bersama dengan teman-temannya.
Kebiasaan ini mereka lakukan untuk lebih banyak mengenal bahwa akan lebih
membahagiakan kalau kita bisa berbagi pada orang-orang yang kesepian dalam
hidupnya.

Ketika teman saya sedang berbicara dengan beberapa ibu-ibu tua, tiba-tiba
mata teman saya tertumpu pada seorang opa tua yang duduk menyendiri sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong.

Lalu sang teman mencoba mendekati opa itu dan mencoba mengajaknya berbicara.Perlahan tapi pasti sang opa akhirnya mau mengobrol dengannya sampaiakhirnya si opa menceritakan kisah hidupnya.

Si opa memulai cerita tentang hidupnya sambil menghela napas panjang. Sejak
masa muda saya menghabiskan waktu saya untuk terus mencari usaha yang baik untuk keluarga saya, khususnya untuk anak-anak yang sangat saya cintai.
Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya dimana kami bisa tinggal dirumah
yang sangat besar dengan segala fasilitas yang sangat bagus.

Demikian pula dengan anak-anak saya, mereka semua berhasil sekolah sampai
keluar negeri dengan Biaya yang tidak pernah saya batasi. Akhirnya mereka
semua berhasil dalam sekolah juga dalam usahanya dan juga dalam berkeluarga.

Tibalah dimana kami sebagai orangtua merasa sudah saatnya pensiun dan menuai hasil panen kami. Tiba-tiba istri tercinta saya yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan ini meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak. Lalu sejak kematian istri saya tinggallah saya hanya dengan para pembantu kami karena anak-anak kami semua tidak ada yang mau menemani saya karena mereka sudah mempunyai rumah yang juga besar. Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau menemani saya setiap saat saya memerlukannya.

Tidak sebulan sekali anak-anak mau menjenguk saya ataupun memberi kabar
melalui telepon. Lalu tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan kalau
dia akan menjual rumah karena selain tidak effisien juga toh saya dapat ikut
tinggal dengannya. Dengan hati yang berbunga saya menyetujuinya karena toh
saya juga tidak memerlukan rumah besar lagi tapi tanpa ada orang-orang yang
saya kasihi di dalamnya. Setelah itu saya ikut dengan anak saya yang sulung.

Tapi apa yang saya dapatkan ? setiap hari mereka sibuk sendiri-sendiri dan
kalaupun mereka ada di rumah tak pernah sekalipun mereka mau menyapa saya. Semua keperluan saya pembantu yang memberi. Untunglah saya selalu hidup teratur dari muda maka meskipun sudah tua saya tidak pernah sakit-sakitan.

Lalu saya tinggal dirumah anak saya yang lain. Saya berharap kalau saya akan
mendapatkan sukacita idalamnya, tapi rupanya tidak. Yang lebih menyakitkan
semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti, mereka menyediakan semua
peralatan dari kayu dengan alasan untuk keselamatan saya tapi sebetulnya
mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan alat-alat mereka yang
mahal-mahal itu. Setiap hari saya makan dan minum dari alat-alat kayu atau
plastik yang sama dengan yang mereka sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka. Setiap hari saya makan dan minum sambil mengucurkan airmata dan bertanya dimanakah hati nurani mereka?

Akhirnya saya tinggal dengan anak saya yang terkecil, anak yang dulu sangat
saya kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah seorang anak yang
sangat memberikan kesukacitaan pada kami semua. Tapi apa yang saya dapatkan?

Setelah beberapa lama saya tinggal disana akhirnya anak saya dan istrinya
mendatangi saya lalu mengatakan bahwa mereka akan mengirim saya untuk
tinggal di panti jompo dengan alasan supaya saya punya teman untuk berkumpul dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungi saya.

Sekarang sudah 2 tahun saya disini tapi tidak sekalipun dari mereka yang
datang untuk mengunjungi saya apalagi membawakan makanan kesukaan saya.
Hilanglah semua harapan saya tentang anak-anak yang saya besarkan dengan
segala kasih sayang dan kucuran keringat. Saya bertanya-tanya mengapa
kehidupan hari tua saya demikian menyedihkan padahal saya bukanlah orangtua yang menyusahkan, semua harta saya mereka ambil. Saya hanya minta sedikit perhatian dari mereka tapi mereka sibuk dengan diri sendiri.

Kadang saya menyesali diri mengapa saya bisa mendapatkan anak-anak yang
demikian buruk. Masih untung disini saya punya teman-teman dan juga
kunjungan dari sahabat – sahabat yang mengasihi saya tapi tetap saya merindukan anak-anak saya.

Sejak itu sahabat saya selalu menyempatkan diri untuk datang kesana dan
berbicara dengan sang opa.

Lambat laun tapi pasti kesepian di mata sang opa berganti dengan keceriaan
apalagi kalau sekali-sekali teman saya membawa serta anak-anaknya untuk
berkunjung.

Sampai hatikah kita membiarkan para orangtua kesepian dan menyesali hidupnya hanya karena semua kesibukan hidup kita.

Bukankah suatu haripun kita akan sama dengan mereka, tua dan kesepian ?
Ingatlah bahwa tanpa Ayah dan Ibu, kita tidak akan ada di dunia dan menjadi
seperti ini.

Jika kamu masih mempunyai orang tua, bersyukurlah sebab banyak anak
yatim-piatu yang merindukan kasih sayang orang tua.

When was the last time you chat to your parent? THEY NEED YOU!

Love your parents in anyway they are…

Iklan

Kisah Anna

Posted: 30 September 2011 in Kisah Inspirasi

Ada pasangan suami isteri yang sudah hidup beberapa lama tetapi belum mepunyai keturunan.
Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI, karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi.

Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman2 dan sahabat2, dan lingkungan sekitarnya. Semua orang ikut bersukacita dengan mereka.
Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan perempuan.Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi.
Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki2 nya.

Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki2nya. “Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur yenyak”, kata sang ibu di sela tangisannya. Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut,dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan.

Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini.. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain ?
Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne.
Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya,mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri.

Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne , mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi.
Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi.

Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat.
Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis.
Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne ),mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja.
Sungguh tidak ada kata2 yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut.
Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka.

Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne .
Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam.
Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam…..

Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ.
Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb bahwa donor tsb berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian.
Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa.
Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya…


Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini :
1. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.

2. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang bermanfaat bagi orang lain.

3. Ibu Anne mengatakan “Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak2 kita melakukan hal2 terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga”.

Berhentilah Untuk Selalu Memikirkan Kepentingan Diri Sendiri, Jadikanlah Kehadiran Anda Di Dunia Ini Sebagai RAHMAT Bagi Orang Banyak dan Bagi Orang2 Yang Anda Cintai (Ayah, Ibu, Saudara/i,Suami/ Istri, Anak2 Anda, dst)

Kisah Sang Kondektur Wanita

Posted: 30 September 2011 in Kisah Inspirasi

Ayo…. Ayo …. Ancol, Sunter Podomoro, Priok….
Ancol, Sunter Podomoro, Priok….
Tunggu….!!! Tunggu….!!!
Ada sewa! Ayo…ayo naik…. Tarik!
Begitulah, kondektur wanita itu berteriak lantang menawarkan busnya. Tak kenal lelah, panas, hujan, terik, semuanya dilaluinya tanpa merasa terbebani.

Profesi wanita itu hanya sebagai kondektur. Tidak ada yang istimewa dengan dirinya, pakaiannya, gayanya ataupun suaranya yang melengking di tengah deru kendaraan. Yang membuat Anna tertarik untuk memperhatikannya adalah semata-mata karena ia seorang wanita yang bekerja sebagai kondektur. Sebuah profesi yang masih sedikit langka dan sulit dilakukan oleh kaum hawa.

Entah mengapa Anna begitu tertarik memperhatikan gerak-geriknya. Lincah, gesit, spontan dan sangat percaya diri

Bus berjalan perlahan meninggalkan terminal. Di tengah jalan, tidak seberapa jauh dari pusat perbelanjaan besar, bus berhenti. Kami para penumpang biasa menyebutnya dengan istilah “ngetem” yakni berhenti cukup lama untuk mencari penumpang. Tidak beberapa lama setelah penumpang memenuhi bangku-bangku kosong, bus mulai berjalan perlahan, perlahan, perlahan hingga akhirnya bergerak menjauh. Dengan mantap, sang supir pun menginjak pedal gas dalam-dalam. Tak terasa bus sudah berjalan jauh, tanpa komando dari kondektur.

Hingga suatu ketika penumpang yang duduk di kursi belakang berteriak “Pir, kondekturnya ketinggalan, tuh! Kasihan!! Lumayan jauh. ”

Kami, penumpang yang ada di dalam bus, semua tertawa geli mendengar ucapan itu. Supir buru-buru menghentikan bus, menepi dan menunggu kondektur wanita yang ketinggalan. Cukup lama bus menunggu, kira-kira hampir sepuluh menit-an.

Tiba-tiba dari arah belakang bus, sebuah bajaj meluncur kencang dan berhenti persis di depan bus. Dari dalam Bajaj keluarlah sang wanita yang menjadi kondektur tadi, dengan wajah panik dan ketakutan. Ia segera menghampiri supir bus dan menangis sejadi-jadinya. Sambil mennguncang-guncangkan tubuh sang supir.

“Kamu jahat, jahat sekali! Tinggalin begitu aja!
Tau nggak, saya takut, saya panik waktu tahu bus sudah nggak ada. Padahal saya kan lagi bantu nyeberangin penumpang. Apa kamu nggak lihat, gimana sih kamu jadi supir nggak peduli amat?” Kalimat-kalimat itu terus meluncur dari bibir tipis si wanita.

Sudahlah, ma….! Maafkan saya, saya nggak lihat kalau kamu ada di seberang. Ya udah nggak usah nangis, malu dilihat orang. ” ujar sang supir.

Dari dialog mereka, Anna dan penumpang lain baru mengetahui bahwa ternyata supir dan kondektur itu adalah pasangan suami isteri. Seorang penumpang yang duduk paling depan dekat supir segera menjadi penengah pertengkaran tersebut.

“Sudah-sudah tidak usah diperpanjang, maafkan saja Bapak, dia mungkin khilaf tidak melihat. ” lerai bapak itu pada si kondektur wanita. “Ibu juga nggak usah dendam, sama-sama cari uang sama-sama kerja untuk anak, pasti ada susah senangnya. ”

“Pak supir juga harus peduli sama isteri jangan cuek, harus lihat keadaan sekitar, jangan main tancap gas aja!” ujar si bapak tadi menasehati supir.
Akhirnya pertengkaran pun berakhir, mereka saling bersalaman dan berpelukan.
Kami semua para penumpang segera bertepuk tangan dan terharu melihat sikap mereka.

Dalam hati Anna merasa bahwa mereka benar-benar pasangan yang cukup kompak, bahu membahu dalam mencari nafkah untuk keluarga dan mudah memaafkan satu sama lain, mau mengerti keadaan masing-masing dan tidak pantang menyerah.

Satu lagi pelajaran hidup yang bisa dipetik oleh Anna sebagai calon ibu muda adalah bahwa siapa pun dirinya, kelak jika ia telah menikah nanti ia harus bisa bersikap tenggang rasa, tolong menolong dan saling memahami dalam setiap situasi apa pun. Jangan pernah sombong, egois dan merasa lebih tinggi dari pasangannya. Segala upaya untuk menafkahi keluarga harus dilakukan dengan kerja keras, pantang menyerah, disiplin dan ikhlas. Itu kunci utamanya., bisik Anna dalam hati.

Ia sangat salut kepada pasangan supir dan kondektur tadi, karena meskipun kehidupan mereka, kemungkinan sering diwarnai dengan pertengkaran-pertengakaran kecil, namun hal itu tidak mengurangi rasa kompak mereka sebagai pasangan suami isteri. Justru pertengkaran kecil itulah yang menjadi bumbu-bumbu manis dalam menciptakan bangunan rumah tangga.

Dengan itu, masing-masing pasangan akan lebih memahami karakter, kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga di masa mendatang mereka bisa lebih memperbaiki diri. Membuat diri lebih siap menghadapi masalah-masalah kehidupan yang serius, mendidik anak-anak yang berbakti pada orang tua dan menciptakan masyarakat yang sejahtera.
Ibarat pepatah, rumah tangga yang datar-datar saja dan tidak diwarnai dengan sedikit pertengkaran-pertengkaran kecil layaknya sayur tanpa garam.

Seorang pemuda  tamatan  SMA  melamar  pekerjaan  menjadi cleaning services di perusahaan   paling  kesohor  di  negaranya.  Setelah  tes  dan  wawancara,  sang  pemuda tadi  diberi  tahu  oleh  manager  SDM  perusahaan  tersebut  bahwa  ia  dinyatakan  lulus. Manager SDM berkata kepadanya: Terkait dengan kapan Anda mulai bekerja  dan  apa saja yang akan menjadi kewajiban Anda, nanti akan diinformasikan langsung via email. Mendengar kata “email” itu, sang pemuda tadi berkata dengan santai: “Saya gak punya komputer dan gak punya email pak…” Lalu, sang manager SDM kaget sambil berkata: “Hari gini Anda gak punya email? Yang gak punya email berarti ia mati dan orang mati tidak  berhak  bekerja.  Kalau  begitu,  Anda  dinyatakan  gagal.”  Mendengar  ucapan tersebut,  pemuda  yang  tadinya  terlihat gesit  dan  semangat  itu,  tiba-tiba  lemas  dan terlihat  amat  kesal  bercampur  kecewa.  Mukanya  jadi  lesu  dan  pandangannya  jadi ngambang.

Tak  lama  kemudian,  ia  pulang  sambil  menelan  kepedihan  dalam  hati  yang  tak terhingga. Pupus sudah impian dan cita-citanya untuk bekerja di perusahaan besar itu, hanya gara-gara tidak memiliki saluran komunikasi maya yang bernama “email”.

Dalam  perjalanan  pulang  menuju  rumah,  sang  pemuda  itu   berfikir  dan  merenung dalam-dalam apa kira-kira pekerjaan yang mungkin lagi ia lamar. Bekal hidup semakin hari semakin menipis dan bahkan uang yang dimilikinya tak lebih dari 100 ribu rupiah. Ia  mulai  menimbang  dan  berkalkulasi.  Dalam  hatinya  berkata:  Kalau  uang  tersebut dijadikan biaya transportasi melamar pekerjaan dan untuk keperluan makanan, paling hanya cukup untuk tiga hari. Tiga hari itu  tentulah tidak cukup waktu untuk melamar dan menunggu hasil tesnya. Itupun kalau lulus. Kalau tidak? Yang terjadi adalah, bekal habis, pekerjaan pun tidak dapat.

Setelah berfikir  panjang  dan  merenung  dalam-dalam,  terbetik  dalam hati  kecil  sang pemuda  itu  untuk  merubah  haluan  pikirannya,  yakni dari  mencari  kerja  menjadi pedagang. Trauma  ditolak  menjadi  karyawan  hanya  gara-gara  tidak  punya  email, membuat  pemuda  tersebut  semakin  kuat  dorongannya  untuk  mencoba  berdagang. Bukan   hanya  banting  ster  pemikiran,  arah  jalan pun  ia  putar  dari  menuju  rumah menjadi menuju pasar.

Setelah keputusan itu diambilnya dengan mantap, ia turun dari kendaraan umum yang mengarah  ke  tempat  tinggalnya  dan  naik  kendraan  umum  lain yang  menuju  pasar sayur-sayuran dan  buah-buahan.  Sesampainya di pasar yang tergolong paling kumuh dan  becek  itu,  ia  berfikir  lagi  apa  gerangan  yang  paling  pas  ia  dagangkan  dengan modal  75  ribu  rupiah  sehingga  sisanya  yang  25  ribu  rupiah  lagi  bisa  ia  pakai  dan manfaatkan untuk transportasi dan biaya makan  paling tidak untuk satu hari.

Sebelum memutuskan membeli barang dagangannya, ia berkeliling ke semua pojok dan kios  pedagang  buah-buahan dan sayur-sayuran  yang ada di  pasar  itu. Tak kurang  dua jam  lamanya  ia  berkeliling  ke  sana  dan  kemari.  Dalam  hatinya  timbul  pertanyaan: pasar  sebesar  ini,  masak  brang-barangnya  tidak  terlalu  banyak  sehingga  sulit melakukan pilihan. Apalagi sayur-sayuran yang ada terlihat tidak terlalu segar. Melihat kondisi seperti itu ia memberanikan diri be rtanya pada seorang pedagang yang sedang  duduk-duduk  sambil  menikmati  secangkir  kopi  di  kiosnya:  “Pak?  Mau  tanya,” ucap  anak  muda  itu.  “Kalau  mau  cari buah-buahan  atau  sayur-sayuran  yang  segar  disebelah mana  ya?”  Bapak berumur  setengah  baya  itu  dengan  gembira  menjawabnya: “Begin i dek… sekarangkansudah sore.” Buah-buahan  dan  sayur-sayuran  yang  segar  sudah  habis  sejak  tadi  siang.  Kalau  adik mau yang segar dan baru, nanti malam sekitar jam 23.00 datang lagi.Parapedagang besar dan supplier biasanya datang membawa barang dagangannya ke sini jam segitu. Nanti kamu bisa pilih sepuasnya… Mendengar keterangan  si bapak pemilik kios itu, anak muda itu  menghadapi masalah pelik baru, yakni antara menunggu atau pulang dulu ke rumah, nanti jam 23.00 malam baru  datang  lagi.  Menunggu  bukanlah  pekerjaan   yang  mudah.  Pulang  juga  bukan yang  baik, karena akan memakan ongkos yang cukup  lumayan dan sudah pasti mengurangi  modal  yang  ada.  Akhirnya  pemuda  itu  memutuskan  untuk  menunggu sampai jam 23.00 di mana suasana pasar akan berubah 180 derajat dari suasana yang dilihatnya saat itu.

Sambil  menunggu  waktu  perdagangan  malam  tiba,  ia  menemukan  ide  yang  cukup bagus, yakni  diskusi dengan  si bapak pemilik kios tadi seputar hal ihwal perdagangan sayur dan buah-buahan. Tujuannya tak lain, kursus kilat berdagang sayur-sayuran atau buah-buahan. Pemilik kios tersebut dengan ramah dan senang hati menerima tawaran anak muda itu. Diskusi  pun berjalan  serius  dan  terkadang  seram,  khususnya  saat bapak itu  bercerita kondisi  sulit  waktu  menghadapi  beberapa  kali  usahanya  bangkrut  sehinga  ia  dan keluarganya  jatuh  miskin.  Namun, kata bapak  itu, adik jangan  takut  karena  bersama kesulitan,  pasti  ada  kemudahan.  Itu  janji  Allah,  kata  bapak  tadi,  dan  bapak merasakannya  berkali-kali  dalam  kehidupan  ini.  Kesulitan  artinya  mengundang,  lanjut  bapak  tadi.  Diskusipun  terjadi  selama  sekitar  enam  jam,  hanya disela shalat magrib dan isya. Sekarang  jarum  jam  telah  menunjukkan  angka  23.00. Para  pedagang  besar  mulai

berdatangan dengan truk-truk yang penuh sesak buah-buahan dan sayur sayuran. Para kuli bongkar pun  dengan  cekatan  dan  penuh  semangat  mengeluarkan   barang-barang dari  dalam  truk-truk  besar  itu.Tidak  sampai  dua  jam,  pasar  yang  tadinya  kosong menjadi  tumpukan  buah -buahan  dan  sayur-sayuran  segar.  Mendadak  saja  pasar menjadi  sangat  ramai  oleh  kehadiran  para  pedagang  yang  datang  dari  berbagai penjuru  kota  untuk  membeli  keperluan  dagangan  mereka  dan  dijual  kembali  esok harinya di warung mereka atau disuplai ke pelanggan-pelanggan mereka.

Tak dirasa anak  muda itupun larut dengan  suasana yang sangat hidup itu. Rasa capek dan  ngantuk pun  hilang.  Ia  mulai  melihat  ke  sana  ke  mari  sambil  memutuskan  jenis barang  dagangan apa yang  akan  ia beli. Tiba-tiba matanya tertu ju kepada tumpukan tomat segar  dan matang, bening  dan  berwarna kemerah-merahan  yang menumpuk di dalam  satu kios  yang  terletak di blok yang  berbeda  dengan  kios  seorang  bapak  yang menjadi trainer dan teman diskusinya saat menungu waktu  perdagangan tiba. Akhirnya anak muda itu memutuskan membeli satu boks tomat matang dan segar itu.

Ajaibnya, setelah ia tanya kepada si pedagang, harganya pas sejumlah uang yang telah disiapkannya,  yakni  75  ribu  rupiah.  Satu  boks  itu  berisi  25  kg  tomat  segar  dan berkualitas baik. Akhirnya anak muda itu membeli satu boks tomat matang segar seharga 75 ribu rupiah, Ia segera pulang sambil mencari omprengan menuju rumahnya. Ia sampai ke rumah pas waktu  adzan  subuh  berkumandang.  Rasa  ngantuk  ia  lawan  sekuat  tenaganya.  Setelah mandi dan berwudhu, ia putuskan untuk tidak meninggalkan kebiasaannya shalat subuh berjamaah di masjid  dekat rumahnya, kendati belum tidur sama sekali. Setelah  shalat jamaah selesai, seperti biasa, ia membaca dzikir yang disunnahkan Rasul SAW. Setelah itu ia larut dalam doa.

Diantaranya: Yaa Allah! Engkau Maha Tahu  dan hamba tidak tahu sama sekali mana yang lebih baik buat dunia hamba, agama dan akhirat hamba. Jika berdagang ini lebih baik bagi  hamba,  agama  dan  akhirat  hamba,  maka  mudahkanlah  dan  mohon diberkahi,……. yaa Ar hamar rahimiin…

Saat pulang dari masjid menuju rumah, kalkulasi dan feeling bisnisnya mulai tumbuh. Hatinya berkata : 75 ribu rupiah, dibagi 25  kg  sama  dengan  3 ribu  rupiah perkilogramnya. Agar aku tahu harganya di tingkat eceran, aku harus mengecek berapa harga  tomat  di  warung  dekat  rumahku. Setelah  ditanya,  pemilik  warung  itu menjelaskan  harganya  6  ribu  rupiah  perkilogramnya.  Mendengar  jawaban  si  pemilik warung itu, ia berkata dalam hatinya : Kalau  satu boks tomat yang aku beli tadi malam habis terjual semuanya hari ini, wah… aku bisa dapat keuntungan 100%, dong? Dibeli 3 ribu  rupiah  dan  dijual  6  ribu  rupiah  perkilonya.  Kalau  saja  aku  berjualan  6  hari sepekan   berarti  sebulan  24  hari. Kalau  sehari  aku  dapat  keuntungan  75  ribu  rupiah, berarti  dalam sebulan aku bisa dapat keuntungan satu juta delapan ratus ribu rupiah. Artinya, dalam sebulan aku mendapat keuntungan 2.400%. Subhanallah…

Begitulah  hitung-hitungan  bisnis  mulai  tumbuh  dan   berkembang  dalam  benak  anak muda itu. Agar tidak buang-buang waktu, ia segera mengambil sepeda bututnya untuk dijadikan kendaraan kelilingnya di daerah tempat tinggalnya sambil membawa satu boks tomat segar dagangannya.

Dengan  mengucap   basmalah  dan  penuh  tawakkal  pada  Allah,  ia  mendayungkan sepedanya sambil berteriak: “Tomat segaaarr… ibu-ibu tak perlu jauh-jauh ke warung membelinya…  kualitas  barangnya  terjamin….  Harganya  bersaing…”  Hampir  setiap ibu- ibu mendengar suara aneh itu membuka p in tunya dan membeli tomatnya, ada yang seperempat kilo, ada yang setengah kilo dan bahkan ada yang dua kilo.

Di  antara  para pembeli tomatnya  ada  seorang  ibu yang kaget terheran-heran sambil berkata:  “Eh ?  Kamukan  anak  si  Fulan?  Bukannya  kamu  lulus  menjadi  karyawan perusahaan ternama  itu?  Kok  sekarang  malah  menjadi  pedagang  tomat  asongan? Kasiahan  deh  kamu?”  Anak  muda  itu  tak  menjawab  pertanyaan  ibu   itu.  Ia  hanya tersenyum saja. Dalam hatinya berkata, yang penting aku dapat uang, dari dagang  keliling,  yang  penting  halal  dan  cukup  buat  kebutuhan  hidupku, orang tuaku… Tak  terasa anak muda  itu berhasil  menjual  semua  barang dagangannya  hanya  dalam tempo  tiga  jam  saja.  Hatinya  gembira  tak  terkira.  Artinya,   sekitar  jam  09.00  pagi dagangannya sudah  habis terjual dan ia mendapat keuntungan 75 ribu rupiah, artinya untungnya seratus persen. Semangat bisnisnya semakin meningkat. Tawakkalnya pada Allah semakin besar. Begitulah kegiatan anak muda itu setiap hari, setiap pekan dan setiap bulan. Uangnyatak terasa semakin banyak. Bahkan usahanya sudah  merambah ke berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran. Hanya dalam tiga tahun, ia sudah bisa membeli tiga mobil niaga  yang  digunakan  mengirim  dagangannya  ke  berbagai  warung  dan  super  market karena ia sudah menjadi supplier handal Bersamaan  dengan  pertumbuhan  bisnisnya,  tawakkalanya  pada  Allah  semakin  tebal. Keyakinannya pada Rasul Saw. semakin besar, sambil berkata dalam hatinya :

Sungguh benar Engkau wahai Rasulullah tercinta, bahwa pintu rezeki yang lapang itu ada pada perdagangan, bukan pada kerja dan jadi karyawan.

Sambil meneteskan air mata syukur, ia berkata:

Yaa Robb… sekiranya aku dulu punya “email”, aku diterima jadi cleaning services diperusahaan  besar  itu.  Paling  gajiku  standar  UMR,  alias  satu koma  dua  juta.  Itupun setelah beberapa tahun bekerja. Sekarang,  omset bisnisku sehari hampir  10 kali lipat gajiku  sebulan…            Yaa  Allah…Ini  adalah  cobaan  terbesar  dalam hidupku  apakah  aku jadi hamba-Mu yang bersyukur atau kufur. Karena itu, jadikanlah aku hamba-Mu yang bersyukur dan masukkanlah aku ke dalam hamba-hamba-Mu yang saleh…

Aamiiin  yaa Robbal ‘aalamin…